Gondelan Sarunge Kyai

Selasa, September 22, 2020

Penyuluh Mendampingi Pentasarufan Bantuan Dana UPZ Kemenag Kab Batang Di Bawang

 



Batang - Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Batang bagikan 50 amplop yang berisisikan sejumlah uang pada Mustahik (orang berhak penerima zakat) yang ada di lingkungan kerjanya, tepatnya di Lingkungan Kantor Urusan Agama Kecamatan Bawang. Ini upaya meringankan beban ekonomi apalagiRead More dalam kondisi merebaknya virus corona saat ini.

 

Penyerahan pada Mustahik langsung dilakukan oleh Team dari UPZ Kementerian Agama Kapupaten Batang yang dipimpin oleh Ibu. Hj. Siti Mahmudah, S. Ag, M. Pd.I (penyelenggara Zakat dan Wakaf), didampingi oleh Kepala KUA Kec. Bawang, H. Moh. Romdhon, S. Ag, M. Sy, serta Penyuluh Fungsional Ibu. Hj. Purwaningsih, S. Sos.I,. Selasa (22/09/2020) di Ruang Balai Nikah KUA. Kec. Bawang.  

 

"Penerima adalah Ashnaf yang terdiri dari beberapa sabilillah, Faqir, Miskin yang diambilkan dari beberapa orang di 20 desa yang ada di Kecamatan Bawang, yang telah diseleksi oleh team Penyuluh Agama Islam. Di sela-sela acara penyerahan sembari mengatakan penyerahan ini bukan pertamakalinya dilakukan dengan nilai total dana yang diserahkan pada tahap ini Rp 12.500.000,-. Ungkap H. Moh. Romdlon, S.Ag. M. Sy

 

Pada kesempatan yang sama penyelenggara Zakat dan Wakaf Hj.  Siti Mahmudah, S. Ag, M.Pd.I menyampaikan, bahwa "Penyaluran bantuan merupakan bentuk kepedulian dan apresiasi keluarga besar Kemenag Kab. Batang kepada masyarakat di sekitar, apalagi di tengah kondisi perekonomian yang tidak kondusif karena virus Covid- 19," kegiatan ini juga sebagai media untuk mengenalkan atau lebih mengakrabkan kembali kepada masyarakat tentang fungsi dan peran Kantor Urusan Agama (KUA) yang tidak hanya scebgai tempat untuk urusan pernikahan saja sebgaimana yang banyak dikenal oleh masyarakat, namun banyak sekali peran dan fungsi KUA yang sangat membantu bagi masyarakat “  Tambahnya.

 

Sementara itu, Ibu. Hj. Purwaningsih, S. Sos.I selaku coordinator penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bawang, Menyampaikan bahwa acara ini merupakan acara rutin tahunan, dari UPZ yang bekerja sama dengan KUA dan dibantu dalam pentasarufannya oleh Penyuluh Agama Islam KUA. Keamatan Bawang. (eMKa/22/9/20)


Share:

Senin, Juni 24, 2019

Tutorial Tepuk Ice Breaking


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokayuh,...


Hai Sahabat, dan Rekan Rekanita yang senantiasa bertambah kualitas kehidupannya.

kali ini, saya akan sedikit berbagi tutorial bagaimana cara membuat suasana kelas ceria dan kembali bersemangat.

ini bisa dilakukan kapanpun yang sahabat dan rekan reknaita mau, disaat sahabat, rekan rekanita sedang mengisi materi kegiatan atau mengajar di kelas.

bagaimana caranya di Tepuk Pada Hari Minggu Selamat Menikmati

Share:

Design MMT Sederhana








Dapatken Contoh design sederhana dan mudah dibuat di Beberapa Contoh Design Sederhana MMT dll.
tinggalkan koment jika ingin sedikit berbagi. Terimakasih
Share:

Sabtu, November 04, 2017

Mengenali Tugas Perkembangan Anak Usia Dini


Gambar diabil dari PlayGroup Plus Al-Hana

A.     Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Awal
Secara kronologis (menurut urutan waktu), masa kanak-kanak (early childhood) adalah masa perkembangan dari usia 1 atau 2 tahun hingga 5 atau 6 tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan dan keluarganya. Oleh karena itu, fungsionalisasi lingkungan keluarga pada fase ini penting sekali untuk mempersiapkan anak terjun ke dalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan sekolah.
Masa kanak-kanak sering disebut masa estetika, masa indera, dan masa menentang orang tua. Disebut estetika karena pada masa ini merupakan saat terjadinya perasaan keindahan. Disebut masa indera, karena pada masa ini indera berkembang pesat dan merupakan kelanjutan dari perkembangan selanjutnya. Berkat kepesatan perkembangan itulah, dia senang mengadakan eksplorasi. Kemudian disebut dengan masa menentang. Masa itu disebut juga Masa Raja Kecil atau Masa Trotz Alter dengan sikap egosentris karena merasa dirinya berada di pusat lingkungan, yang ditampilkan anak dengan sikap senang menentang atau menolak sesuatu yang datang dari orang di sekitarnya. Perkembangan seperti itu antara lain disebabkan oleh kesadaran anak, bahwa dirinya mempunyai kemauan dan kehendak sendiri, yang dapat berbeda dengan orang lain. Kesadaran itu merupakan awal dari usaha untuk mewujudkan diri (self realization) sebagai satu diri (individu), dengan menunjukkan bahwa dirinya tidak sama dengan orang lain.
Anak-anak pada masa ini bersifat meniru, banyak bermain dengan lelakon (sandiwara) atau khayalan, yang kadang-kadang dapat membantu dalam mengatasi kekurangan-kekurangannya dalam kenyataan. Kegiatan yang bermacam-macam itu akan memberikan ketrampilan dan pengalaman-pengalaman terhadap si anak.
Tahap-tahap perkembangan masa kanak-kanak awal menurut beberapa tokoh:
1.      Sigmund Freud
Fokus Freud lebih pada perkembangan psikoseksual. Masa kanak-kanak awal tahap perkembangan yang dicapai adalah fase Anal (usia 1 - 3 tahun; Pada fase ini, dorongan dan tahanan berpusat pada alat pembuangan kotoran) dan fase Phalic (usia 3 - 5 tahun; Pada fase ini, alat-alat kelamin merupakan daerah organ paling perasa).
2.      Jean Jeaques Russeau
The Age of Nature (usia 2 - 12 tahun). Pada masa ini, anak perlu dilibatkan dalam sejumlah pengalaman yang melatih kemampuan jasmaninya; mempertajam ketrampilan (skill), khususnya yang menyokong pemenuhan kebutuhan hidupnya; mempertajam fungsi pancaindera; dan yang membimbingnya untuk bertindak baik.
3.      Oswald Kroh
Kroh berpendapat bahwa pada dasarnya perkembangan jiwa anak berjalan secara evolutiv. Pada umumnya proses tersebut pada waktu-waktu tertentu mangalami kegoncangan (aktivitas revolusi), masa kegoncangan ini oleh Kroh disebut ‘Trotz Periode’, dan biasanya tiap anak akan mengalaminya sebanyak dua kali, yakni trotz I sekitar usia 3/4 tahun dan trotz II usia 12 tahun bagi putri dan usia 13 tahun bagi laki-laki.
4.      Jean Piaget
Periode Praoperasional (usia 2 – 7 tahun). Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental dan logika tidak memadai; pemikirannya masih bersifat egosentris; anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata; keterampilan berbahasa mulai berkembang.
5.      Lawrence Kohlberg
Penalaran Prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg.
Tahap 1: Orientasi hukuman dan ketaatan (punishment and obedience orientation). Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman.
Tahap 2: Individualisme dan tujuan (individualism and purpose). Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri.
6.      Erik Erikson
Initiative versus guilt, usia 3 - 6 tahun. Anak prasekolah dalam perkembangan sosialnya berada pada peralihan dari tahap "otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu" ke tahap "inisiatif vs rasa bersalah". Pada masa ini anak belajar memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu/mencapai goal tanpa dihalangi ataupun tanpa perasaan bersalah dan takut dihukum.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini meliputi:
1.      Belajar berbicara, misalnya mulai dengan menyebut kata ibu, ayah, dan nama-nama benda sederhana yang ada di sekelilingnya.
2.      Belajar membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, dan bersopan santun seksual.
3.      Belajar mengadakan hubungan emosional selain dengan ibunya, dengan ayah, saudara kandung, dan orang-orang di sekelilingnya.
4.      Belajar membedakan antara hal-hal yang baik dengan yang buruk, juga antara hal-hal yang benar dan salah, serta mengembangkan atau membentuk kata hati (hati nurani).
5.      Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana tentang kenyataan sosial dan alam, serta mempersiapkan diri untuk membaca.
Dengan demikian, belajar berbicara, membedakan jenis kelamin, mengadakan hubungan emosional, belajar konsep (pengertian) dapat dikatakan sebagai tugas perkembangan masa anak-anak awal yang berkaitan dengan segi perkembangan psikososialnya yang selanjutnya berguna bagi terciptanya hubungan sosial menuju tahap-tahap perkembangan selanjutnya.

B.      Ciri-Ciri Masa Kanak-Kanak Awal
Adapun ciri-ciri masa kanak-kanak awal adalah:
1.      Usia yang mengandung masalah atau usia sulit
2.      Usia pemerolehan bahasa
3.      Usia mainan (bermain); fisik dan motorik; keseimbangan dan kordinasi
4.      Usia prasekolah
5.      Usia belajar berkelompok; perkembangan emosi dan sosial
6.      Usia eksplorasi dan bertanya; meniru dan kreatif
7.      Usia perkembangan moral; empati dan perilaku prososial
Ciri-ciri masa kanak-kanak awal tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Kekurangan dari salah satu ciri-ciri tersebut merupakan suatu kondisi yang harus diperhatikan sunguh-sungguh oleh orang tua ataupun masyarakat. Perlu diketahui, pada kondisi tertentu tidak semua ciri-ciri di atas bisa terpenuhi, kerena pengaruh faktor-faktor tertentu, seperti faktor kepribadian (kognitif dan afektif) dan lingkungan (keluarga, sekolah, atau masyarakat).


Versi Pdf Full Bisa Klik di sini


DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Asrori. Karakteristik Perkembangan Anak Prasekolah. http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/karakteristik-perkembangan-anak.html. Diakses pada 5 Juni 2011.
Arlia, Rahmah. Psikologi Perkembangan. http://eko13.wordpress.com/2008/04/12/psikologi-perkembangan/. Diakses pada 11 Februari 2011.
Benai, Andy. Tahap Perkembangan Psikososial. http://nopriandistikesi.blogspot.com/2011/03/tahap-perkembangan-psikososial.html. Diakses pada 2 Juni 2011.
Febrianti, Tati. Tingkah Laku Sosial Anak Prasekolah Saat Menjalani Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24953/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada 5 juni 2011.
Gunawan, Nanang E. Masa Kanak-Kanak Awal. Diunduh dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Nanang%20Erma%20Gunawan,%20S.Pd./002.%20Perkmb%20Anak%20Prasekolah%20PowerPoint%20-%20Bu%20Yulia%20Tim.pdf. Diakses pada 2 Juni 2011.Papalia, Olds, dan Feldsman. 2009. Human Developement. Jakarta: Salemba Humanika.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Mahmud. Masa Anak-anak Awal (Perkembangan Psikososial). http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2011/01/masa-anak-anak-awal-perkembangan.html. Diakses pada 2 Juni 2011.
Garutkab. Perkembangan Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial. Diunduh dari http://www.garutkab.go.id/download_files/article/Perkembangan%20Psikologi%20Anak%20Dalam%20Kehidupan%20Sosial.doc. Diakses pada 6 Juni 2011.
Psikologizone. Teori Perkembangan Moral Kohlberg. http://www.psikologizone.com/teori-perkembangan-moral-kohlberg/06511736. Diakses pada 6 Juni 2011.
Prasetyo, Edy. Jean-Jacques Rousseau: Pendidikan Kembali Alam. http://edyintelectus.blogspot.com/2011/01/jean-jacques-rousseau-pendidikan.html. Diakses pada 6 Juni 2011.
Yanti, Depe. Perkembangan Bahasa/Komunikasi. http://www.bintangbangsaku.com/content/perkembangan-bahasa-komunikasi. Diakses pada 5 Juni 2011.


Share:

Kamis, November 02, 2017

Jangan Menghawatirkan segala sesuatu yang Belum


Gusti Mboten Sare
            Filosofi ini menegaskan bahwa Allah SWT tidaklah tidur, Dia selalu mengamati setiap gerak-gerik makhluknya.  Ketika kita tertimpa musibah, maka kita akan memahami bahwa Allah SWT akan memberi pertolongan-Nya (Dia tidak tidur). Sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an yaitu Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi Berdiri Sendiri. Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya ?” (Al baqarah : 2 : 255).
            Filosofi Gusti mboten sare ini banyak dihayati dan diterapkan oleh masyarakat Bantul Yogyakarta ketika mengalami musibah gempa bumi 27 Mei bebrapa tahun yang lalu. Ternyata kekuatan dari filosofi ini mampu membangkitkan semangat dan harapan mereka setelah  mengalami peristiwa  yang traumatis tersebut. Mereka menjadi lebih tegar dan  mampu  bangkit dari kesedihan mendalam akibat gempa bumi. Filosofi Gusti mboten sare ini mampu  merubah  perspektif mereka terhadap musibah yang mereka alami lebih positif dan lebih bermakna.
Secara  langsung  filosofi ini  menegaskan kepada kita bahwa setiap musibah ada hikmah dan maknanya. Ketika musibah datang  menerjang, kita dianjurkan untuk berdoa agar mendapatkan kemudahan, ketegaran dan jalan keluar dari masalah tersebut. Sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an ”Allah SWT sendiri menegaskan kepada seluruh  makhluknya, bahwa setiap doa-doa yang disampaikan  pasti  akan   dikabulkan-Nya. Allah SWT berfirman “Tuhan kamu (Allah) berfirman, “ Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang takabur dari menyembah-Ku, mereka akan masuk neraka jahanam dalam keadaan yang terhina (QS Al-Mu’min 40 : 60).  Ayat di atas menegaskan secara jelas bahwa kita diperintah Allah untuk berdoa kepadanya, dengan memurnikan ketaatan kita. Allah SWT menjamin bahwa jika kita  taat secara tulus kepada Allah SWT dengan tidak mempersekutukannya, maka  doa-doa yang akan kita panjatkan insyaallah akan terwujud. Salah satu syarat agar doa kita terkabul adalah menghindari sikap takabur. 
Dengan hanya mengingat bahwa Gusti mboten sare, hati kita menjadi tenteram dan damai. Alllah SWT berfirman “ yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikir). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram “ (Q.S. Ar-Ra’d : 28). Beberapa penelitian  menjelaskan  bahwa  pemecahan masalah dan penyesuaian diri terhadap distres, depresi, frustasi, dan kekecewaan melalui cara  mendekatkan diri kepada Tuhan (transendental coping) lebih membawa dampak positif bagi individu. Dampak ini tentu saja akan meringankan beban psikologis, memunculkan  optimisme, dan semangat individu untuk berhasil dalam mengatasi permasalahannya.

eMKa Niam dalam penelitiannya (2010) menerangkan tingkat religiusitas seseorang memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap kebermaknaan hidup Santri. beitu juga Penelitian Khisbiyah (1992) menjelaskan bahwa peran tingkat religiusitas mempunyai  dampak positif terhadap  kebermaknaan hidup individu. Semakin tinggi tingkat religiusitas individu, maka semakin tinggi pula  kebermaknaan hidupnnya.  Penelitian Anari (1996) menjelaskan  hal yang sama bahwa tingkat religiusitas membawa dampak positif terhadap kebermaknaan hidup  pada perempuan. Dalam banyak penelitian dibuktikan aktivitas relijius dapat memberikan penguatan-penguatan, dapat menjadi upaya preventif bahkan penyembuhan yang efektif bagi pribadi perilakunya. Dalam studi longitudinal terhadap ribuan subyek, House, Robbins dan Metzner (dalam Hawari, 2004) menemukan angka kematian (mortality rate) yang jauh lebih rendah pada mereka yang rajin menjalankan ibadah, berdoa dan berdzikir dibanding dengan mereka yang tidak menjalankannya. Dari 212 studi lainnya, 75 persen para ahli menyatakan komitmen agama memberikan pengaruh positif pada pasien, sehingga Matthews (dalam Hawari, 2004) mengatakan mungkin suatu saat para dokter juga perlu menuliskan doa dan dzikir dalam resep obat.  Penelitian Anggraini (2004) membuktikan dzikir yang disertai dengan teknik pernafasan tertentu dapat meredusir kecemasan dan gejala-gejala penyakit secara efektif. Filosofi  Gusti mboten sare ini  merupakan perwujudan dari dzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Untuk mencapai ketenagan hati dan jiwa sehingga  berdampak pada  kesehatan mental kita pula. (CopyRight: Naskah Publikasi Seminar)
Share:

Subscribe Yuk . . .

Follower's

https://cangkiralit.blogspot.co.id/